MAGETAN TODAY – Kawasan Eco Bamboo Park Magetan yang digadang-gadang menjadi ruang terbuka hijau yang asri justru menyajikan pemandangan memprihatinkan.
Ditengah musim kemarau, deretan rumpun bambu diarea itu tampak layu, menguning serta mengering akibat kekuarangan air.
Kondisi ini memicu keprihatinan dari Ketua DPRD Magetan, Riyin Nur Asiyah, serta mengundang pertanyaan besar terkait efektivitas sistem pengairan dan pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan selaku penanggung jawab.
Legislator PKB itu menegaskan masalah kekeringan ini menjadi perhatian serius pihak legislatif.
Menurutnya, meski anggaran sumur pengairan sudah dialokasikan ternyata pemanfaatannya belum maksimal karena terkendala efisiensi anggaran dan kendala teknis di lapangan.
“Ini jadi keprihatinan kami. Anggaran untuk sumur sebenarnya sudah ada, tapi memang belum maksimal. Apalagi menyiram tanaman dari sumber air ke lokasi bambu yang baru ditanam itu jaraknya jauh banget, butuh tenaga dan waktu ekstra,” ungkapnya, Selasa (6/10).
DPRD Magetan berjanji akan melakukan evaluasi DLH Magetan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) mendatang, terutama terkait koordinasi dan tindak lanjut penanganan tanaman mati serta kejelasan anggaran PAK (Perubahan Anggaran Keuangan).
“Kalau yang mati banyak, nanti saat RDP dengan Dinas LH akan kita sentil dan ingatkan. Setelah kemarin dok PAK, kita akan bedah di komisi masing-masing lewat RDP dari dinas ke dinas,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan, Saif Muchlisun, tidak menampik kondisi tersebut. Dirinya berjanji akan segera menerjunkan tim ke lapangan untuk pendataan ulang dan upaya penyelamatan.
“Kami akan lakukan pengecekan lapangan dan pendataan kembali. Tanaman yang masih memungkinkan diselamatkan akan disiram dan dipelihara, sedangkan yang mati akan dievaluasi untuk penyulaman”. jelas Saif.










